Selasa, 04 Oktober 2011

Kumpulan Ebook Gratis

Bagaimana Saya Bisa Berbagi Dengan Anda?
Maka Saya Akan Berikan Kumpulan Ebook Gratis 
Untuk Anda, Di Tempat Ini



Kumpulan Puisi cinta 1
GRATIS!


Kumpulan Puisi Cinta 2
GRATIS!


Kumpulan Cerpen Campuran
GRATIS!


Kumpulan Cerpen Cinta 1
GRATIS!

Kumpulan Cerpen Cinta 2
GRATIS!


Ebook Pengembangan Diri
3 Tahapan Perjalanan Kesulitan Dengan Study Kasus Menuju Internet Marketing Dan Bagaimana Teknik Sederhana Sanggup Mengatasi Kesulitan Itu?
GRATIS!




Saya Berbagi Kepada Anda Karena Anda Pun Telah Berbagi (lewat kunjungan anda) Dengan Saya. So, Win Win Solutions




Anda pun bisa berbagi dengan saya, karena saya pun ingin tahu pengalaman anda. Ups... Seharusnya anda yang ingin tahu pengalaman saya. Tapi, intinya saya pengin saling berbagi, win win solutions, okey. Itu bila anda mau.


Sabtu, 03 September 2011

Sajak Mawar Berdarah

Setangkai bunga terlihat jatuh ditaman.
Bunga yang selalu hadir dalam percintaan
Tak di sangka, tak ada siapa dalam pandangan.
Lihat mawar merah berbalut darah, mengejutkan.

Darah siapa dalam mawar layu?
Mencekan suasana sore hati sayu.
Betapa jejak yang masih berkabut.
Bukanlah ini hal yang istimewa
Tentang mewah yang menusuk raga.
Tetapi, kejadian ini dalam mengulangan.

Sepi sendiri di taman buram percintaan.
Menatap kisah lalu dalam taman ini.
Seseorang yang mati tertusuk mawar berduri.
Bukanlah ini istimewa, tetapi ia mati saat cinta menekan.

Mawar berdarah menjadi kisah.
Hadir sebagai hantu saat ada hati keluh-kesah.
Hantu itu hadir, tanpa aku panggil
Saat aku masih sendu cintaku yang terpenggal.

Cerpen Mawar Berdarah

Taman Blodog yang terlihat penuh dengan tanaman bambu hias dan juga bambu dengan batang yang menjulang tinggi. Berdampingan dengan mawar-mawar yang berawarna-warni. Dengan seonggok kisah. Kisah yang sedikit mencekam dan tak istimewa, tanpa aku sadari waktu itu. Waktu itu hari-hariku hanya dilalui rasa bahagia di taman Blodog ini dengan seorang kekasih yang aku cintai.

Terkadang suasana tarian bambu-bambu yang menimbulkan suara mirip hantu. Aku mendengarnya tanpa peduli. Kadang aku mencium aroma wangi mawar dengan aroma yang sedikit aneh. Yang sedikit membuatku merinding adalah waktu mendengar tangisan sembari menyerukan syair cinta. Persisnya seperti puisi kahlil gibran. Tetapi itu biasanya ada seorang pujangga yang memang bersyair di sini. Kejadian aneh itu biasanya di waktu sore hari.

Memang suatu pertanda buatku. Akan tetapi, aku tidak begitu memperhatikan kejadian itu. Aku hanya menikmati cinta di taman ini, sebagai satu-satunya taman sederhana tetapi cocok untuk memadu kasih bersama seorang yang aku sayang.

Seiring kejadian aneh yang terus-menerus diperlihatkan di depan mataku, membuatku semakin penasaran apa yang terjadi dengan semua itu. Sebuah kisah lama tentunya. Ya, kisah itu masih berkaitan dengan percintaan. Tentang percintaan yang sedikit mencekam itulah yang aku dapati dari para pencerita.

“Pantas, aku merasakan keanehan, Nov,” kataku.

“Keanehan apa? Aku tidak merasakannya.”

“Tentang hantu mawar berdarah,” kataku sewaktu aku sudah tahu kejadian sebenarnya.

Lalu aku menjelaskan yang aku tahu tentang cerita itu padanya. Rupanya Novi tidak pernah merasakannya. Kata seorang pengurus taman ini, katanya, lima tahun yang lalu ada seorang yang bunuh diri di tempat ini. Memang kejadian bunuh diri tidak begitu tragis dan dramatis. Pada akhirnya kejadiannya aneh sekarang ini pun tidak begitu mencekam.

“Lalu seperti apa bunuh dirinya? Karena apa ia sampai bunuh diri?” Novi mempertanyakan.

“Tidak tahu. Memang ini cerita klise. Cerita yang sudah umum dilakukan para pesimis sakit pada hidup. Aku tidak tahu,” kataku menjelaskan.

“Ah... tidak usah Mas bahas lagi. Tidak seram dan tidak seru. Paling cerita yang begitu-begitu saja.” Novi enggan mengetahui lebih dalam lagi.

Maklum aku tidak pernah tahu kejadian itu karena aku dan novi lebih intim pada kenikmatan-kenikmatan percintaan. Sampai aku melupakan masalah orang tua yang tidak menyetujui hubungan ini karena perbedaan agama. Tapi semua sirna karena kita tengah asik menikmati cinta. Hanya keanehan itu yang sedikit aku rasakan.

Setelah aku tahu yang sebenarnya tentang kejadian-kejadian aneh itu, aku sering melihat orang-orang berteriak-teriak. Anehnya, aku saja yang melihat kejadian itu. Padahal itu benar-benar nyata bagiku. Tetapi mungkin halusinasiku saja.

Aku menelan ludah saat mengetahui hal itu. Bukan masalah menakutkan. Tidak ada nuansa seram dalam kejadian ini. Yang aku pikirkan hanya tentang hubunganku dengan Novi. Aku hawatir hubungan ini putus di tengah jalan.

Aku teringat cerita kelanjutannya dari seorang yang pernah menjalin hubungan dengan seorang yang bunuh diri itu. Katanya, bila orang sudah mendengar kejadian aneh dan melihat sendiri lelaki yang berteriak-teriak, menangis dan lain-lain, tandanya akan terjadi keretakan pada hubungannya. Jelas ini hal yang aku takutkan.

“Kau jangan asal bicara!” Kataku kesal pada wanita yang mengaku mantan lelaki yang bunuh diri itu.

“Apakah saya butuh kepercayaanmu? Tidak butuh. Terserah kau mau percaya atau tidak. Coba pikir masalah apa yang tengah kau rasakan?” Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca sehabis membicarakan putusnya hubungannya dengan lelaki itu.

“Memang, aku sedang punya masalah. Orang tua kita saling tidak setuju. Tetapi aku tak mau berpisah. Aku takut sekali berpisah dengan wanita yang aku cintai,” katakuaku. Hanya menunduk.

Plok! Ia menepuk pundakku, membuat kepalaku bangkit dari posisi menunduk.

Ia berkata,“Kisahku lebih tragis. Persis seperti kisah Layla Majnun. Kau tahu kisah itu?”

“Aku tidak tau. Kau mau menceritakan kisahmu? Silahkan.”

Lalu wanita yang mengaku mantan lelaki yang bunuh diri itu bercerita. Ia hanya ingin mengenang penderitaan yang waktu silam ia alami. Sudah lama memang ia tak menjenguk tempat ini. Memang ia pun menderita kegilaan akibat putus hubungan dengan kekasihnya. Bukan tanpa alasan. Ia menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya padahal kekasih wanita itu sudah benar-benar ingin menikahinya. Bukan kebaikan yang ia peroleh, tetapi justru siksaan ranjang yang ia peroleh. Akhirnya ia mengaku, ia mengalami kegilaan dan kecintaan pada mantan kekasihnya.

“Lalu, bagaimana mantanmu bunuh diri sampai ada hantu hantu penasaran yang mirip dengan kekasihmu?”

“Ia menyuntikkan racun yang sangat berbahasa dengan dicampuri cairan mawar dan berdarah. Ia menuliskan sendiri kisahnya dan ditaruh di bawah pohon mawar. Ia bunuh diri kira-kira malam hari.”

“Kenapa ia menampakkan diri sore hari?”

“Karena sore hari adalah tepat dilaksanakannya akad pernikahanku dengan lelaki pilihan orang tua! Wanita itu berbicara sembari menunduk lesu sembari tetap mata berkaca-kaca.

***

Kisah yang sedikit mencekam dahulu telah aku rasakan sendiri sekarang. Aku tak ada pikiran yang waras. Aku hanya menitikkan air mata. Kenapa ini terjadi? Aku tidak berdaya apa yang harus aku lakukan. Tetapi aku tidak terima melihat pernikahan ini!

Bergegas aku hampiri acara akad pernikahan itu. Tanpa rasa malu, aku menuju mantan kekasihku. Entah ini cara gila atau cara cinta, yang jelas aku tidak terima ia milik orang lain. Aku tak mau lagi dalam ketidakberdayaan.

“Tunggu! Aku tidak terima ia menikah dengan orang lain! Dia kekasihku dan hanya menikah denganku!” kataku keras dan tak peduli.

Mata para pengunjung semua tertuju padaku. Termasuk keluarga mantan kekasihku dan calon suaminya.

“Hei! Manusia gila! Makasudmu apa?!”

Tanpa pikir, aku bergegas mendekat lagi dan mencoba merebut mantan kekasihku.

Keributan pun terjadi. Aku mencoba memukul calon suaminya, malah aku yang terkena macam pukulan. Aku lari. Aku coba meronta-ronta, mengacaukan suasana. Membanting tempat makanan. Berlarian menuju kursi para tamu. Lalu mengambil anak kecil dan mengancam akan membunuh bila ada yang berani melanjutkan akad pernikahan. Kebetulan saya membawa pisau. Aku tidak tega tetapi aku telah sangat gila.

“Siapa saja yang berani melanjutkan akan pernikahan, aku bunuh anak ini!” sembari pisau diletakkan di leher anak ini. Orang tuanya menjerit-jerit. Anak itu menangis ketakutan.

“Hei novi! Aku tahu, kau terpaksa menerima dia! Kau tak berdaya menerima cowo brengsek itu, karena orang tuamu itu orang miskin baru yang menjelma menjadi pengemis! Wahai bapak dan ibu Novi, lagi pula kau benci diriku sejak aku masih berhubungan. Sekarang aku mau membatalkan pernikahan,” kataku penuh luapan emosi.

“Kurang ajar! Cepat panggil polisi,” kata bapaknya Novi.

“Jangan main-main! Sekali polisi datang, pisau ini merobek leher anak ini,” kataku mengancam.

Suasana mencekam. Semua ketakutan. Termasuk anak ini, ia terus menerus menangis. Kedua orang tuanya pingsan karena tak tahan melihat ancaman ini.

“Nikahi aku sekarang juga pak penghulu! Tanya sama novi, pasti ia menerimanya,” kataku.

“Ya Tuhan, Nak Firman. Jangan begitu. Kami mengerti, kamu cinta sama anak kami. Tetapi agama melarang untuk bersatu. Pak penghulu, dia bukan dari agama kita,” kata ibunya Novi menjelaskan.

“Agama apa’an? Agama gila! Kalau kalian masih punya agama, jangan memaksa anaknya untuk dinikahi! Kalian telah memaksanya.”

Berlangsung cukup lama adu mulut tanpa terpikir untuk membawa kabur Novi. Aku hanya melampiaskan yang dulu hanya tersimpan di dada.

“Angkat tangan! Menyerahlah,” suara polisi mengejutkanku.

Sampai aku tak sadar. Aku tak memperhatikan. Sungguh tak memperhatikan. Aku fokus meluapkan segala emosi dan memikirkan novi yang aku cintai. Dan kini aku sudah dikuasai oleh para polisi dengan mudah. Aku langsung dibawa ke mobil polisi.

Aku dijebloskan ke sel tahanan untuk proses persidangan. Hari-hariku hanya melamun. Sampai akhirnya aku tidak lagi ditahan. Aku mengalami kegilaan. Sangat gila.

Penampakan hantu yang sembari membawa mawar berdarah mengajakku untuk bunuh diri. Tapi aku hanya termangu tak mengerti melihat sesosok hantu mawar berdarah itu. Kegilaanku membuatku tak mengerti dunia ini dan apa hidup ini. Aku hanya berimajinasi tentang cinta yang tak lagi aku pahami.

***


Cirebon, September 2011







Jumat, 02 September 2011

Bingkai Foto, Bersajak Wanita Perhiasan Dunia

Bingkai foto kali ini saya menampilkan foto saudara saya, hehe... Cukup pas kan buat tampil gaya di blog saya? Hmm... Maklum, dia kan bintang teater di kampusnya. Cukup ngerti lah low masalah gaya mah.

Lumayan lah foto yang satu ini. Dari pada foto cewe lain, pasti dimarahin kalau saya asal pasang tanpa ijin (foto saudara sendiri juga dimarahin kali). Tapi walau saudara sendiri, saya ijin dulu dong.

Foto saudaraku ini sebagai simbol wanita karena berisi sajak Wanita dan Perhiasan Dunia.


bingkai foto



Gak usah dinikmati keindahannya ya? Ini foto saudara saya! Hehehe...



Bingkai: www.bima.ipb.ac.id

Senin, 29 Agustus 2011

Cerpen : Lebaran dan Manisnya Maaf

Satu bulan penuh menahan lapar, haus, dan tingkah nafsu-nafsu lainya. Satu bulan hati kita ditempa mengenai arti penyadaran diri.

Kita patut sadar, kita ini diliputi hawa nafsu yang siap bergerak tanpa di suruh tatkala ada rangangan. kita patut sadar, kita selalu lapar dan haus. Tatkala kita tak mampu mendapatkan segenggam beras, seliter air, kita akan merana menjalani hidup. Kita pun patut sadar, kita ini selalu dalam jalinan bersama keturunan Adam. Silaturahmi adalah kebutuhan jiwa dan raga. Dan kita patut sadar, bulan puasa adalah pendidikan kesadaran terbaik sehingga kita perlu memanfaatkannya.

Hari yang fitri pun kini hadir. Kini, malam bertakbir lantang di seluruh penjuru Indonesia. Khususnya di daerah Buntet Pesantren Cirebon. Bertakbir pula diri Furkon penuh derai air mata penyesalan akan kesalahan, perpisahan dengan bulan Ramadan, sekaligus penyambutan hari kemenangan.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.”

Furkon adalah orang yang soleh. Tapi ia adalah manusia yang tak lepas dari dosa. Ia khusyu bertakbir, sesekali ia dalam bayangan sebulan yang lalu. Tapi dengan sungguh-sungguh, ia berusaha melupakan sejenak demi menikmati manisnya bertakbir.

Satu jam sudah ia melantunkan takbir. Jam terlihat pukul delapan. Selesai bertakbir, ia rebahkan badan sejenak sekedar menghilangkan kelelahan. Nafsu pun seakan menagih janji pada Furkon untuk membayangkan kembali kisah sebulan yang lalu bersama tunangannya. Ia pun menuruti dengan hati penuh luka, penuh penyesalan.

Pikiran melayang, membayang pada calon kekasih. Kini, pertunangan dalam murka calon mertua. “Pantas lah mereka murka. Aku begitu menghina mereka dan tunanganku” gumam Furkon.

Kejadian itu seharusnya tidak perlu Furkon alami.

***

“Ibu dan Ayah pada kemana, Nad? Ini kan hari Minggu.”

“Pergi kondangan di acara pernikahan.”

“Kamu sendirian?”

“Jelasnya begitu. Mas, kan tahu, aku anak tunggal.

“Aku tahu. Tapi maksud aku… jika Nadia sendirian, lebih baik kita di luar saja. menghindari fitnah.

“Aku percaya sama keimanan, Mas. Tentunya kita harus di luar.”

“Walau pun sudah tunangan?”

“Apa bedanya Mas, masih pacaran atau sudah tunangan? Dalam Islam keduanya sama, masih belum halal.”

Furkon dan Nadia pun duduk di halaman depan rumah.

“Tentunya. Oh ya, Nad. Betapa buruk pergaulan remaja sekarang. Tahu tidak, menurut hasil penelitian, menghabarkan bahawa 80% siswi setingkat SMA sudah tidak perawan lagi.

“Masya Allah, yang benar Mas?”

Ya. Tapi Aku tidak tahu benar apa tidak. Tapi intinya, perzinahan sudah merajalela. Nafsu zina kini bergentayangan mendekati para pelajar, mahasiswa, maupun yang bersetatus suami istri.

“Makanya, aku tidak mau pacaran. Aku hawatir berzina.”

“Nadia salah satu pelajar yang beruntung, diantara pelajar yang sudah melakukan pacaran. Jika Nadia sudah selesai semester 1, aku mau melamarmu.”

“Benarkah? Berarti kelas tiga semester 2 aku sudah menjadi istri?”

“Ya, aku pun bertambah umur menjadi 26?”

“Dan aku masih tetap 18 tahun.”

“Nadia diam sembari tersenyum-senyum. Entah apa yang ada dipikiran Nadia. Membayang kehalalan berhubungan atau membayang kemeriahan acara pernikahan.

“Aduh, aduh, sakit,” Nadia merintih.

“Apanya yang sakit?”

“Perutnya Mas, keram. Aku lagi datang bulan.”

“Oh, datang bulan. Itu sudah biasa dialami cewe.”

Furkon diam dan Nadia masih menahan otot keramnya. Furkon berusaha tidak memandang Nadia yang sedang mengelus-elus perutnya. Tapi walau mata tak memandang, imajinasi-imajinasi kotor terlintas dalam pikiran dan menggodanya. Furkon berusaha menepik semua pikiran hina itu. Pemandangan indah halaman rumah, dilengkapi tanaman hias cukup menenangkan pikiran.

“Nadia, sudah mengerti belum pelajaran haid?”

“Lumayan mengerti”. Tapi dibandingkan dengan teman-temanaku, aku yang mengerti. Tiap kali temenku datang bulan dan ada masalah haid yang tidak di mengerti, mereka bertanya sama aku. Tapi jika tidak bisa, aku serahkan sama Nyai Fatimah, guru mengaji Nadia”.

“Aduh, calonku sudah mulai menyaingi Nyai Fatimah ya?”

“Ih, ih, ada-ada saja. masa aku menyaingi Nyai Fatimah. Oh ya Mas. Suami itu perlu tahu juga walau ia tidak haid. barangkali istri tidak mengerti tentang itu. Suami harus tanggung jawab. Oh ya, aku tes Mas ya? Harus mau, hmm.. Awas kalau gak bisa, Nadia jewer, hehe…”

“Iya, Silahkan.” Furkon menyetujui dengan pasrah. Demi memenuhi sikap manja Nadia.

“Kalau, darah.”

“Aduh,” rintih Furkon memotong pembicaraaan.

“Kenapa Mas?”

“Giliran aku. Tapi ini mules. Ingin buang air besar. Aku, aku bagaimana ya? Di sini saja ya?

“Ya sudah di sini saja. Masa di rumah tetangga. Bikin malu aku aja.”

Tanpa banyak omong, tanpa ragu Firman masuk. Dia pun sudah mengetahui di mana letak kamar mandi tersebut. Jalan lurus melewati kamar Nadia, lalu belok ke kanan menuju kamar mandi. Tidak menunggu lama, Firman segera masuk ke kamar mandi. Lalu dengan kelegaan dalam persiapan, ia mulai dalam mengeluarkan kotoran.

***


Sedangkan di luar, Nadia menunggu Firman. Tak betah menunggu dalam kesendirian. Ia pun masuk rumah. Ia langkahkan kaki menuju kamarnya. Nadia masuk ke kamar. Lalu, dalam kamar, ada sesuatu yang perlu ia bereskan keadaan dirinya yang sedang dalam haid.

Setelah Furkon selesai ke kamar mandi. Lalu ia pun menuju keluar. Lalu tak sepengetahun Forkon, Nadia pun keluar dari kamarnya. Dan rupanya Nadia berniat menuju kamar mandi. Mungkin ingin mengganti pembalut. Dan,

Auh!! Nadia kaget dan sedikit mau jatuh.

Lukman pun dalam keadaan yang sama, kaget.

Mereka saling berbenturan badan. Dan tangan Furkon menahan Nadia yang hampir jatuh sampai ke dua wajah itu hampir bersentuhan. Furkon terpikat dengan wajah ayu dan manis Nadia. Furkon dan Nadia pun antara sadar dan tak sadar. Mereka hanya menikmati benturan cinta yang telah terjadi. Mereka melakukan hal yang mendekati zina. Sempat Nadia menolak, tapi hanya pencegahan yang lemah. Awalnya cuma bersentuhan. Tapi apa daya nafsu berbalut cinta sudah mendapat kesempatan. Nafsu pun memainkan perannya sampai melumpuhkan kuatnya keimanan. Mereka masuk ke kamar Nadia.

Tanpa ia sadari. Sepuluh menit kemudian orang tua hadir. Tapi kehadiran orangtua tidak di dengar mereka yang sedang asik dalam hina. Orang tua Nadia pun masuk. Dan setelah itu pintu Nadia diketuk, karena ada suara yang mencurigakan.

“Allah! Allah! masya Allaaaah, masya Allah,” ibu terkejut bukan main. Ibu hanya mampu mengucapkan kalimat Allah.

“Nadia! Forkon!, Manusia munafik! Penampilan saja kau soleh,” kata ayahnya Nadia sembari mendekat lalu di tamparnya wajah Furkon.

“Kau kurang ajar! Anakku kau hina dengan perbuatanmu yang ternyata kotor. Hatimu busuk! Keluar kamu, cepetan!

***

”Astaghfirullah! Astaghfirullah! Astaghfirullah! Kenapa aku larut dalam lamunan. Masya Allah, masya Alaah, ini malam hari raya. Aku berjanji pada diriku, ingin meminta maaf pada Nadia dan keluarganya malam ini juga. Aku harus! Harus! Aku tak peduli mereka masih marah apa tidak. Ya Allah, ampuni hamba,” gumam Furkon penuh jiwa perjuangan pengharapan maaf.

Tak menunggu lama, Furkon meniki sepeda motornya. Segera ia jalankan. Dan akhirnya motor melaju dengan penuh semangat. Ia menghampiri daerah Kendal, tempat tunangannya tinggal. Suasana Kendal pun sudah dirasakan olehnya. Air mata siap menyambut dihadapan calon mertua.

Pemandangan rumah sudah terlihat. Suasana masih sepi dari para tamu. Jam setengah sembilan ia mengetukkan pintu. Tak lama pintu dibuka. Ia disambut wajah cantik, manis Nadia. Tapi sambutan itu tak semanis wajah Nadia.

“Maafkan aku Nadia.”

Tanpa sepatah kata dari Nadia, ia pun kembali masuk.

Tanpa Furkon ketahui. Ayahnya yang hadir.

“Andai ini bukan di suasana Ramadan, dan hari raya, aku tampar kamu yang kedua kali. Mau apa kamu ke sini!”

Seketika Furkon pingsan. Dia tidak kuat menahan bayang-bayang dosa yang dahulu, tidak kuat menghadapi murka calon mertua, tidak kuat terputus pertunangannya dengan wanita yang ia cintai.

***

“Ya Allah. Ada di mana?” Kata Furkon sembari menatap kesana-kemari mengenalkan suasana.

“Masya Allah, Mas. Mas pingsan tadi, hik, hik, hik,” Nadia menjelaskan sembari tangis tersedu-sedu.

Furkon teringat, kalau kedatangan kesini untuk meminta maaf. Furkon menatap Pak Latif, Ayah Nadia. Seketika, ia langsung memohon ampun dengan posisi tubuh seperti sujud.

“Maafkan aku Pak, silahkan Bapak memutuskan pertunangan. Aku rela, aku rela. Silahkan Bapak merajamku seperti kasus orang yang berzina. Silahkan! Tapi maafka aku, Pak! Aku benar-benar menyesal,” kata Furkon sembari mencium kaki Pak Latif.

“Maafkan aku, Bu” kata Furkon pada ibu dengan menegakkan badannya.

Ibu Halimah, ibunya Nadia hanya menangis. Entah karena merasa kasihan atau karena hati sakit masih terasa padanya. Begitu pula Nadia. Ia menangis sembari meninta ampun pada kedua orang tuanya. Tak kuat melihat kesungguhan Furkon meminta maaf, Nadia pun masuk ke kamarnya.

“Aku sebernarnya masih sakit hati. Tapi apa daya, ini bulan penuh ampunan. Apalagi besok lebaran. Nadia sudah menceritakan semuanya…Yah, Terkadang kesolehan begitu lemah bila nafsu sudah diberi hidangan yang manis dan indah dunia.”

Sungguh aku tidak melakukan zina, Pak! Sungguh. Aku pun masih sempat sadar. Tapi tidak apa-apa bila aku dianggap zina! Aku pantas, Pak!”

“Sudah, sudah. Bapak dan Ibu mau memaafkan. Dengan satu syarat dan harus dipenuhi.

“Baik, Pak!”

Nikahi Nadia sehabis lebaran tanpa menunggu berbulan-bulan. Kalian sudah saling cinta. Dan kami pun sudah merasa cocok.

“Baik, Pak, Bu. Aku akan memenuhi. Terima kasih banyak, Ya Allah!

“Nadia, Nadia. Kemari, Nak.”

“Iya Bu,” sahut Nadia.

Nadia pun keluar dari kamarnya. Matanya terlihat sedikit lebam.

Ada apa, Bu? tanya Nadia.

“Sini duduk. Dan juga Furkon, duduk kembali di kursi,” Ibu Halimah memerintah.

“Nadia, Furkon, nanti kalian akan kami nikahkan sesudah lebaran usai. Itu sebagai syarat untuk mendapatkan maaf Ayah dan Ibu.”

“Yang bener, Pak? Itu mah syarat yang manis Pak. Mas Furkon pasti memenuhinya,hihihi.”

Furkon dan Nadia pun saling berhadapan dan mereka tunjukkan senyum manisnya.

***

Cirebon, September 2010

Kamis, 25 Agustus 2011

Rabu, 24 Agustus 2011

Teknik Menggunakan HDR/PM, Apa Itu?

Silahkan Anda pahami kutipan langsung dari Les Giblin (Liat judul buku terjemahan, di sini). Seperti ini.

“Bagi yang mempunyai harga diri rendah bahkan pandangan yang mengandung celaan atau sepatah kata kasar pun bisa menjadi bencana.”

Anda mengerti? Bila kutipan langsung belum begitu paham, saya akan jelaskan secara tidak langsung.

Maksud dari Les Giblin adalah Si “A” yang harga dirinya rendah bila melihat pandangan dari seseorang (pada diri Si A) mengandung celaan terhadap dirinya atau kata-kata yang kasar atau menghina padanya, maka akan menjadi bencana alias timbul pertikaian.

HDR/PM artinya harga diri rendah berarti pertikaian dan masalah.

Sering kita melihat seseorang mengejek temannya. Karena temannya merasa tersinggung, akhirnya ucapan ejekan yang terlihat sepele menjadi sebuah permusuhan. Akhirnya temannya menghajar bahkan membunuhnya hanya karena ucapan ejekan itu. Dapat dipastikan temannya itu mempunyai harga diri yang rendah. So, ini bukan ucapan saya tetapi Les Giblin yang berkata.

Menurut Les Giblin seseorang yang sudah berada di “puncak” lebih mudah untuk diajak berurusan dengan orang lain daripada seseorang yang masih berada pada kelas “bawah” (bawahan).

Sebuah contoh kasus seorang prajurit waktu perang dunia I berkata “Berikan geretan itu sialan!”. Tetapi prajurit itu malu setelah tahu yang dibentaknya itu jenderalnya sendiri. Prajurit itu pun minta maaf dengan perasaan bersalah. Lantas jendral itu pun berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Bersyukurlah karena aku bukan letnan dua.” Bisa kita perhatikan, status jendral yang ia pegang tidak terganggu oleh ucapan kasar dari prajuritnya.

Sehingga dalam pembelajaran pengembangan diri yang baik dalam menghadapi seseorang yang harga dirinya rendah adalah mengingat-ingat tentang kata kunci HDR/PM. Bila kita selalu ingat, maka tiap menghadapi seseorang yang harga diri rendah, kita tidak menambah masalah baru. Perkataan dan perbuatan kita harus terjaga baik-baik agar tidak terjadi sesuatu yang kasar, menyinggung pada seseorang yang harga dirinya rendah.

Salam Cerdas!